Artikel
PROPERTI KELAS SEBAGAI MEDIA IMAJINASI DALAM BERMAIN TEATER

PROPERTI KELAS SEBAGAI MEDIA IMAJINASI DALAM BERMAIN TEATER

Oleh : Neno Suhartini

MAN 2 Kota Bogor

“Menemukan permasalahan saat bermain peran, mungkin bingung dengan keterbatasan ruang, atau repot menyediakan media karena keterbatasan waktu?  Teater tidak selalu membutuhkan panggung megah dan properti mahal. Di kelas, kursi, meja, sapu, dan papan tulis bisa menjadi properti luar biasa yang menghidupkan imajinasi, itulah jawabannya.”

Pada dasarnya tidak ada satupun strategi pembelajaran yang jitu untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran atau kompetensi. Hal tersebut karena keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran tergantung kepada banyak faktor antara lain strategi, pendekatan, tipe, model, media, isi , tempat atau bahkan dari pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri. Pembelajaran merupakan proses mengupayakan para siswa  mencapai tujuan pembelajaran seperti yang telah ditetapkan dalam rancangan pembelajaran, tentu dengan berbagai pengupayaan agar proses belajar berhasil dan bermakna. Salah satu  upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui pemanfaatan media yang mendukung, berkreativitas menciptakan media yang ramah dan mudah di gunakan semisal penggunaan media yang merangsang para siswa untuk mengeksplorasi dan berinteraksi dengan lingkungan sehingga diperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

Sebelum membahas tentang media dan properti, sebagai pengantar akan dibahas  media secara umum. Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium  secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media merupakan segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses informasi. Hal ini berkaitan dengan proses pembelajaran mata pelajaran apapun, sehingga menjadi bagian penting yang tak terpisahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Media  merupakan alat bantu dalam proses belajar mengajar yakni segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau keterampilan pembelajaran, sehingga dapat mendorong terjadinya  proses belajar yang bermakna.

Merujuk dan mengutip pada pernyataan MC Connell, “if the medium fits, use it, jika media itu sesuai pakailah, !”(Arief S Sadiman, 2007:84). Oleh sebab itu pada prinsipnya pemilihan media pembelajaran harus sesuai dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain:

  1. Demonstrasi, dimaksudkan bahwa media pada prosesnya digunakan untuk mendemonstrasikan alat peraga yang dipilih. Dalam proses pembelajaran, model demonstrasi menjadi tawaran yang menarik karena siswa diajak bersentuhan langsung dengan sesuatu yang baru. Dalam  proses ini akan terjadi interaksi antara guru, siswa dan media yang dipilih. Pada pelaksanaannya penggunaan piranti  jenis ini harus memperhatikan kesederhanaan, kemudahan, kenyamanan dan keamanan bagi penggunanya;
  2. Merasa sudah akrab, media yang dipilih harus alat yang dikuasai serta mudah menyiapkannya. Pilihlah media yang mudah di dapatkan yang ada di sekitar,  akrab karena siswa sudah mengenalnya dalam kehidupan sehari-hari seperti barang-barang yang ada di dalam kelas atau lingkungan sekolah;
  3. Dapat memberi gambaran atau penjelasan yang lebih kongkret atau nyata untuk melengkapi teks yang ada. Media yang dipilih harus mampu menterjemahkan teks baik lisan maupun tulisan agar lebih mudah dipahami dan membantu proses pembelajaran sehingga berhasil;
  4. Melihat bahwa penggunaan media dapat berbuat lebih dari teks tulis dan lisan maka pemilihan media perlu pertimbangan agar mampu memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan;

Untuk melengkapi pemahaman tentang media perlulah memberi gambaran singkat perihal jenis- jenis media antara lain: Audio, jenis media ini memiliki konsep yang berasal dari indra pendengaran baik yang berasal dari suara manusia dan instrumen misalnya nyanyian, alat musik, pembacaan puisi, dan media rekam seperti kaset audio, siaran radio, Compact Disk, telephone. Media cetak,  jenis ini berasal dari proses media cetak seperti buku pelajaran, modul, gambar, brosur, leaflet, artefak. Media audio cetak, contohnya kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis. Proyeksi visual diam berupa produk kerja melalui Over Head Transparan dan slide. Proyeksi audio visual diam, yakni berupa slide bersuara. Visual gerak seperti gerak tubuh, film bisu. Audio visual gerak, contohnya tarian, film, video, Televisi, Video Compact Disk. Obyek fisik, contohnya model specimen, benda nyata. Manusia dan lingkungan, bisa diperoleh dari guru, pustakawan, laboran, lingkungan sekitar sekolah seperti taman, kantin, lapangan. Komputer dan tekhnologi, Computer Assisted Instruction, Computer Based Instruction, Artificial Inteligence, photografi, dan multi media lainnya.

PROPERTI DAN IMAJINASI DALAM BERMAIN TEATER

Bagaimana kaitan antara media, properti, imajinasi dengan pembelajaran seni teater? Teater merupakan salah satu seni pertunjukan yang kolaboratif karena memiliki keluasan berkreativitas dengan konsep  kolektifitas yang ada. Seni  teater dalam proses berkaryanya memuat gambaran  emosi berupa kisah kehidupan manusia yang diangkat ke atas panggung atau pentas, melalui perpaduan berbagai macam unsur seperti gerak, musik, rupa, akting, dialog, tari dan nyanyian.

Pada mata pelajaran seni budaya , salah satu cabang seni yang diajarkan di sekolah adalah seni teater. Pada praktiknya seni ini  menawarkan berbagai muatan seperti proses memahami diri sendiri, melatih kemampuan emosional, kepekaan sosial, pengetahuan pelestarian nilai-nilai tradisi, bahkan melalui pembelajarannya, teater juga memotivasi keterlibatan siswa dengan merangsang empati dan ikut dalam  merefleksi atas peristiwa yang populer pada masanya. Misalnya siswa terlibat secara empati dan kritis terhadap peristiwa bencana tanah longsor, tawuran pelajar, bullying, lalu mengangkat peristiwa tersebut ke dalam tema projek teaternya.

Pada pembelajaran, seni teater secara signifikan  lebih mudah diikuti dan diadaptasi, karena siswa diajak terlibat langsung dalam proses maupun konsep penggarapan suatu projek sejak proses awal dari mulai memilih tema apa yang akan di garap, menyusun naskah, memilih kerabat produksi yang akan terlibat seperti sutradara, pemain, penataan artistik, rias, busana, musik hingga tim yang mengurus manajemen pertunjukannya. Pada pembelajaran teater siswa dirangsang untuk secara terbuka mengasah dan memilih peran sesuai bidang kemampuan dan melaksanakan proses berkarya seni dengan penuh tanggung jawab.

Bagi guru, pilihan seni teater juga memberikan keleluasaan untuk berkreativitas dengan menyentuh langsung sisi emosional, imajinasi dan sikap kritis para siswa dan dilakukan dengan penuh kegembiran sekaligus menghibur. Pada  prosesnya ketika guru mengajarkan seni peran tentu menemukan beberapa kendala seperti keterbatasan ruang dan waktu serta faktor pendukung lainnya, sehingga diperlukan beberapa cara dengan menggunakan media yang representatif.  

Ada beberapa media yang relevan yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran seni teater antara lain, berupa obyek fisik/benda nyata dan media yang bersumber dari manusia dan lingkungan. Secara fisik,  benda-benda yang berada di kelas dan sekitar lingkungan sekolah bisa dimanfaatkan dengan mudah dan hal tersebut dapat  merangsang guru serta siswa dalam mengeksplorasi berbagai peran yang ditentukan sesuai gambaran skenario yang direncanakan. Benda atau barang yang digunakan dan  mendukung dalam bermain berbagai peran sering disebut dengan properti.

Pada prosesnya  penggunaan media atau properti pada pembelajaran seni teater memiliki kelebihan antara lain; Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan guru. Merangsang kreativitas, penggunaan media pembelajaran yang tepat bahkan bisa melibatkan siswa dalam pembuatannya sehingga para siswa juga diberi kesempatan untuk mengeksplorasi sisi kreativitasnya. Memberikan pengalaman lebih nyata, menarik perhatian siswa, semua indra siswa bisa diaktifkan dan di eksplorasi. Lebih menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar. Dapat membangkitkan dunia teori dan menghubungkannya dengan realitanya, serta merangsang dan mengasah imajinasi.

Dalam pembelajaran seni teater pada praktiknya selain mengasah imajinasi juga mengasah kecerdasan emosional. Peran  imajinasi dalam proses belajar antara lain; membangkitkan inovasi dan kreatif, sifat dan karakter ini merupakan fondasi dari semua karya seni  apapun jenisnya. Inovasi merupakan bagian imajinasi yang sangat berperan penting dalam penemuan ilmiah dan teknologi. Imajinasi juga sangat berpengaruh pada perencanaan dan pemecahan masalah karena memungkinkan untuk memproyeksikan berbagai kemungkinan skenario setelah terjadi pada dunia nyata. Imajinasi juga merangsang sikap empati dengan cara membangkitkan perspektif dan merasakan apa yang dialami orang lain. Imajinasi mengasah rasa dan ini menjadi titik yang paling fundamental dalam pembelajaran seni teater.

Pada prinsipnya penampilan Teater tidaklah selalu membutuhkan panggung atau pentas yang megah dan properti mahal. Di kelas meja, kursi, sapu dan papan tulis bisa menjadi media luar biasa yang menghidupkan imajinasi. Melalui properti sederhana di sekitar, siswa belajar berkolaborasi, berkomunikasi dan mengekspresikan potensi dengan lebih terbuka dan percaya diri. Properti merupakan sebuah benda yang digunakan dan bisa digerakkan oleh seorang aktor di atas panggung. Elemen ini sangat krusial untuk menghidupkan karakter, memperkuat latar cerita serta menciptakan suasana. Dalam proses bermain peran ada empat jenis properti yang lazim di kenal dalam dunia panggung yakni handheld props sering disebut dengan alat peraga tangan, biasa digunakan oleh pemain untuk mendukung aktingnya seperti kipas, cangklong,  keris, pistol. Personal props atau properti pribadi seperti uang di kantong, pena, mesin ketik, rokok, asbak, sapu tangan. Set dressing disebut juga dengan perlengkapan set. Seting yang terpasang di atas panggung yang mendukung dekorasi namun terkadang bisa dimainkan juga seperti buku yang tersimpan di rak, meja, kursi, peta, bendera. Stage props atau dekorasi panggung yang terpasang permanen seperti dinding, partisi, jendela, pintu, tirai. Fungsi utama dari properti adalah sebagai sarana untuk mengasah imajinasi. Sedangkan imajinasi merupakan perwujudan dari kemampuan mental atau permainan jiwa dan rasa. Imjinasi adalah sebuah proses untuk membayangkan, menciptakan dan mengembangkan gambaran,ide, atau konsep di dalam pikiran. Pada praktiknya di sekolah, media untuk mengeksplorasi yang paling mudah dan dekat adalah dengan memanfaatkan properti berupa barang-barang yang ada di dalam kelas. Bagaimana cara seorang aktor menggunakan properti yang ada untuk menghidupkan lakon, karakter dan suasana bukan terjebak pada hal dasar seperti bahan, bentuk, harga, ukuran, warna. Justru dengan beragam keterbatasan tersebut seorang pemain ditantang untuk tetap berlatih dan bermain dengan maksimal tanpa mengurangi kualitas keaktorannya.

Gambar di atas terlihat siswa  bermain peran dengan menggunakan properti kursi kayu yang terdapat di kelas. Apa yang bisa kita pikirkan dan imajinasikan dari dua siswa yang sedang mengangkat kursi dengan sisi tertentu lalu satu siswa duduk dengan tertawa dan merentangkan kedua tangannya. Tentu jawabannya multi tafsir, namanya juga imajinasi. Momen  ini memvisualkan akting siswa yang sedang menginterpretasikan sebuah teks di mana seorang tokoh memenangkan sebuah pertempuran lalu di arak ke atas sebuah kereta kencana. Atau mungkin anda mau menafsirkan dengan teks lain.

Ketika seorang pemain mengangkat sebuah kursi lalu ia menempatkan wajahnya diantara kotak segiempat dari sisi kursi tersebut, ia sedang akting menjadi sebuah frame pas photo 4×6. Menggunakan properti kursi kayu seorang pemain dapat mengimajinasikan sebuah teks dengan beragam interpretasi. Dengan sebuah  kursi kayu siswa bisa mengimajinasikan properti tersebut menjadi perahu, menyeret pohon tumbang, memanggul sekarung beras, mengangkat sekotak perhiasan atau apa saja disesuaikan dengan akting yang disepakati. Pemanfaatan kursi kayu juga bisa dimainkan secara berkelompok. Siswa menginterpretasikan teks, membagi tugas, menyamakan persepsi lalu mewujudkan imajinasi bersama dan memainkannya.

Jadi pada hakikatnya penggunaan dan pamanfaatan  properti saat berlatih peran akan memberikan rangsangan pada siswa untuk mengasah imajinasinya. Karena pada prinsipnya penggunaan media dan properti ini sebagai sarana untuk mengasah imajinasi pemain. Membantu pemain lebih menghayati karakter yang diperankannya. Membuat penampilan akting lebih terlihat realistis sehingga penonton lebih mudah memahami jalan ceritanya. Membantu memperjelas adegan, suasana saat pementasan sehingga lebih hidup, menarik dan membantu pemain memerankan tokohnya dengan lebih baik. Meskipun hanya menggunakan properti sederhana, sebuah kursi.

“Jangan bingung untuk menggunakan media ataupun properti, banyak benda-benda di sekitar bisa dimanfaatkan, jangan jadi kendala, SELAMAT MENCOBA”