Uncategorized
Antara Gagasan dan Gerakan: Dari Pikiran Menuju Aksi

Antara Gagasan dan Gerakan: Dari Pikiran Menuju Aksi

Oleh: Cecep Hilman

BDK Jakarta

Berawal dari menyimak pojok opini yang ditulis oleh Kepala BDK Denpasar, atas pertanyaan Lembaga Pelatihan Menjadi Rumah Perubahan Bisakah? Tergelitik atas pertanyaan itu, coba meresponnya dalam perspektif yang lain, tentu bukan bisa atau tidak jawabannya. Melainkan membuat artikel best practise yang dilakukan oleh BDK Jakarta.

Sesungguhnya telah tampak perubahan besar di dunia dimulai dari sebuah ruang sunyi di dalam pikiran seseorang. Namun, dunia tidak berubah hanya karena manusia berpikir. Perubahan sejati baru terjadi ketika pikiran tersebut mewujud menjadi tindakan nyata. Di sinilah kita perlu memahami batas tegas sekaligus jembatan penghubung antara dua konsep penting: gagasan dan gerakan.

Berbicara gagasan dapat menjadi benih di dalam pikiran, sebagai konsep, ide, teori, atau blue print yang bersifat abstrak. Ia lahir dari proses kontemplasi, analisis terhadap masalah, atau imajinasi tentang masa depan yang lebih baik.

Karakteristik utama dari gagasan dapat lahir dan matang hanya di dalam kepala satu orang tokoh, bersifat pasif atau belum mengubah realitas fisik karena masih berbentuk wacana atau tulisan, tetapi fleksibel mudah diubah, didebat, atau disempurnakan di atas kertas.

Sebuah gagasan tentang “penyelarasan kehidupan harmonis dengan alam/lingkungan” tetap menjadi sebuah mimpi yang indah selama hanya tertulis di dalam buku atau jurnal ilmiah.

Sedangkan gerakan adalah manifestasi fisik, kolektif, dan terorganisir dari sebuah gagasan. Ketika gagasan tersebut mulai diyakini oleh banyak orang dan mereka sepakat untuk bertindak bersama demi mencapai tujuan tersebut, saat itulah sebuah gerakan lahir.

Karakteristik utama dari gerakan bersifat kolektif dengan melibatkan mobilisasi massa, komunitas, atau organisasi. Berperan aktif berwujud aksi nyata seperti demonstrasi, kampanye sosial, atau aktivitas dinamis lainnya. Polanya terstruktur, memiliki strategi, pembagian peran, dan target jangka pendek maupun panjang.

Gerakan menjadi momen ketika gagasan “hidup harmonis dengan alam/lingkungan” tadi berubah menjadi aksi penanaman pohon, mengolah sampah, paperless, minim plastik dan aksi lainnya.

Gagasan tanpa gerakan akan menjadi utopia yang lumpuh—indah didengar namun tidak mengubah keadaan. Sebaliknya, gerakan tanpa gagasan akan menjadi aksi yang buta—bergerak tanpa arah, tanpa fondasi nilai, dan mudah goyah. Sejarah mencatat bahwa perubahan peradaban selalu membutuhkan keduanya secara berurutan. Gagasan adalah kompasnya, dan gerakan adalah kendaraan yang membawa kita menuju arah tersebut.

Kementerian Agama sedang berikhtiar memadukan apa yang menjadi gagasan ditindaklanjuti dengan gerakan, salah satunya adalah ekoteologi, menjadi titik temu yang sempurna untuk melihat bagaimana sebuah refleksi iman (gagasan) bertransformasi menjadi aksi penyelamatan lingkungan (gerakan).

Di Indonesia, gagasan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman (ekoteologi) sedang diwujudkan secara konkret melalui gerakan penanaman pohon. Salah satu contoh nyatanya adalah BDK Jakarta.

Pepohonan yang ditanam berupa pohon keras seperti asam jawa, mangga, jambu jamaika, jambu biji dan yang sejenisnya dan ada juga tanaman herbal seperti binahong, brotowali, keji beling kumis kucing dan yang sejenisnya hampir 370 batang. Selain tanaman perkebunan dan herbal, juga ditanam pohon untuk pertamanan, seperti melati jepang, sutra bombay, philo kuning dan sejenisnya hampir 90 pohon.

Gerakan yang dilakukan oleh BDK Jakarta dalam membangun Green Office, misalnya setiap Rabu pegawai menyambangi pohon yang telah ditanam, dan dipelihara oleh tim akar rumput.

Mengapa disebut tim akar rumput? Karena mereka bertugas mengurus akar dan rumput. Hal ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan dan keberlangsungan agar pepohonan dan lingkungan yang sudah ditanam dan ditata dapat terpelihara.

Pegawai diaktivasi untuk tidak hanya bekerja di ruang kantor, tetapi turun ke lapangan untuk melakukan pertanian ekologis, menolak plastik sekali pakai, mengelola sampah mandiri, membuat pupuk organik, dan menanam pohon di lahan sekitar kantor.

Perubahan suasana kantor sudah mulai tampak, dengan rindang dan hijaunya sekeliling lingkungan BDK Jakarta. Tidak hanya itu dampak nyata yang dirasakan baik oleh pegawai maupun warga sekitar, tetapi juga banyak yang memanfaatkan tanaman hebal untuk pengobatan.

Semoga gagasan dan gerakan pelestarian alam/lingkungan ini, bukan menjadi usaha yang latah atau kagetan. Melainkan menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan sehingga menjadi karakter kita, dan menjadi bukti bahwa keberadaan Kementerian Agama nyata nyata berdampak. Pernyataannya, lembaga pelatihan kita tidak hanya bisa menjadi rumah gagasan tetapi juga rumah gerakan.