Implementasi Pembelajaran Berkesadaran, Bermakna Dan Menggembirakan

Oleh: Dr. Asis Saefuddin. M.Si, Dosen UIN Sunan Gunung Djati

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggarisbawahi prinsipdasar Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam terdiri atas berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Menciptakan suasana belajar yang berkesadaran, di mana murid aktif meregulasi dirinya dalam proses belajar. Pembelajaran juga harus bermakna, relevan dengan kehidupan nyata yang dialami murid, sehingga mereka melihat korelasi antara apa yang dipelajari dengan aplikasi di dunia. Terakhir, suasana belajar perlu menggembirakan, penuh energi positif yang memotivasi siswa untuk terus mengeksplorasi. Hal ini dicapai melalui keterlibatan holistik yang mencakup olah pikir untuk mengasah kognitif, olah hati untuk membentuk karakter, olahrasa untuk mengembangkan empati, dan olah raga untuk menjaga kesehatan fisik siswa.

Prinsip-prinsip Pembelajaran Mendalam akan mampu memuliakan guru, murid, dan pemangku kepentingan pendidikan lain serta memberikan pengalaman belajarmemahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Guru memberikankesempatan murid mendapatkan pengalaman belajar untuk proses perolehan pemahaman, mengaplikasi dalam berbagai konteks, serta merefleksikan Pembelajaran Mendalam. Komponen kerangka pembelajaran terdiri atas praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, kemitraan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital. Mari kita belajar prinsip Pembelajaran Mendalam yang meliputi pembelajaran berkesadaran /mindfull learning, pembelajaranbermakna/ meaningful learning​ dan​ pembelajaran menggembirakan/ joyful learning.

1. Pembelajaran yang Berkesadaran/ Mindful Leaning

Mindful Laerning atau pembelajaran yang berkesadaranyaitu proses pembelajaran yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Dalam konteks kelas, seorang guru harus mengedepankan penghormatan kepada seluruh muridnya serta memberikan mereka ruang untuk menemukan cara efektif dalam mempelajari ilmu. Dengan adanya pendekatan ini, setiap murid dapat berkembang sesuaidengan potensinya masing-masing.

STANDAR PROSES – PERMENDIKDASMEN 2026

Berkesadaran merupakan proses pembelajaran yang membantu murid memahami tujuan pembelajaran sehingga termotivasi, aktif belajar, dan mampu

Pembelajaran berkesadaran merupakan salah satu dimensi kunci dalam pendekatan Pembelajaran Mendalam yang dirancang untuk mendorong peserta didikhadir secara utuh, sadar, dan reflektif dalam proses belajar. Dalam Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam dijelaskan bahwa mindful learning menekankan pada keterlibatan peserta didik yang sadar terhadap proses berpikirnya sendiri (metakognisi), memperhatikan emosi dan pengalaman personal dalam belajar, serta terbuka terhadap berbagai perspektif dan kemungkinan baru(Kemendikbudristek, 2025, hlm. 19–20). Hal inimemungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kesadaran diri (self-awareness), perhatian penuh terhadap tugas belajar, serta kemampuan untuk mengevaluasi proses berpikirnya secara mandiri.

Pembelajaran yang mindful/berkesadaran mendorong guru untuk tidak hanya fokus pada konten, tetapi juga pada cara belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu,refleksi, dan empati. Mindfulness dalam pembelajaran menekankan proses belajar yang tidak terburu-buru, melainkan mendalam dan penuh kesadaran atas apa yang sedang dan telah dipelajari. Ini menciptakan lingkungan belajar yang tenang, suportif, dan aman secara emosional, sehingga lebih kondusif untuk pembentukan pemahaman yang berkelanjutan.

Salah satu pakar yang mengembangkan konsepmindful learning adalah Ellen J. Langer, dalam buku. The Power of Mindful Learning menjelaskan bahwa pembelajaran yang efektif terjadi ketika individu hadirsecara sadar dalam proses belajar. Murid diajak untukterbuka terhadap informasi baru, menyadari bahwa ada berbagai perspektif.

Belajar menyelesaikan masalah sebaiknya denganmulti cara, tidak terperangkap pada satu cara. Langermendorong fleksibilitas berpikir, keingintahuan, dan kesediaan untuk mempertanyakan asumsi-asumsi lama.Murid belajar dengan kesadaran penuh terhadap apa, mengapa, dan bagaimana mereka belajar, maka hasil pembelajaran menjadi lebih bermakna dan pemahaman akan mengendap lama pada diri murid. Prinsip mindfullearning ini sejalan dengan gagasan Ellen Langer (1997) yang menyatakan bahwa belajar secara mindfulmelibatkan keterbukaan terhadap konteks baru, kesediaan untuk mempertanyakan kebiasaan berpikir, serta keberanian untuk menyadari bahwa tidak ada satu cara mutlak dalam memahami sesuatu.

Menurut Fullan Pembelajaran Mendalam memberikan peluang keterlibatan peserta didik secara aktif,menstimulasi refleksi dalam pembelajaran, dan aplikasipengetahuan yang lebih global. Michael Fullan dalam buku The Principal 2.0: Three Keys to Maximizing Impact(2023), menjelaskan mindful learning tidak hanya berkaitan dengan kehadiran kesadaran individu dalam proses belajar, tetapi juga dengan bagaimana sistem sekolah, khususnya peran pemimpin sekolah, membangun budaya pembelajaran yang sadar, kolaboratif, dan berorientasi pada pertumbuhan.

Fullan menekankan bahwa pembelajaran yang efektif harus berakar pada moral imperative atau dorongan etis untuk meningkatkan hasil belajar bagi semua siswa (Fullan, 2023). Mindful learning dimaknai sebagai kesadaran kolektif untuk terus-menerus memperbaiki praktik pembelajaran dengan empati, refleksi, dan komitmen terhadap perubahan berkelanjutan.

Fullan juga menekankan pentingnya deprivatizationof practice/ deprivatisasi praktik, membuka praktik pembelajaran di ruang kelas agar dapat dilihat, dikritisi, dan diperbaiki secara kolektif. Praktik ini adalah wujud dari mindful learning/berkesadaran dalam skala kelembagaan, karena menumbuhkan kesadaran bersama bahwa pembelajaran bukan milik individu, melainkan proses kolaboratif yang bisa diperbaiki bersama (Fullan, 2023). Misalnya, guru dalam sebuah sekolah dapat berbagi rekaman pengajaran mereka untuk ditinjau bersama dalam kelompok pembelajaran profesional. Dalam proses ini, mereka tidak hanya berbagi teknik, tetapi juga merefleksikan niat pedagogis dan efeknya terhadap pengalaman belajar siswa. Mindfullearning/berkesadaran muncul ketika guru secara sadar melihat apa yang berhasil dan apa yang perlu ditingkatkan tanpa merasa terancam, tetapi justru terbuka untuk berkembang.

Dari pemahaman terhadap implementasi mindful/ berkesadaran dalam pembelajaran, maka pendidik sebaiknya bersemangat untuk menciptakan fasilitas pembelajaran, mengembangkan strategi, model pembelajaran yang sesuai, mencari tahu tentang cara membelajarkan murid. Pendidik mengelola pembelajaran yang dimaknai sebagai proses penambahan pengetahuan dan wawasan melalui rangkaian aktivitas menumbuhkan kesadaran murid yang muaranya adalah perubahan dalam diri murid sehingga terjadi perubahan yang sifatnya positif, dan pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru.

2. Pembelajaran Bermakna/ Meaningful Learning

STANDAR PROSES –PERMENDIKDASMEN 2026

Bermakna merupakan proses pembelajaran yangterjadi ketika Murid dapat menerapkan apa yang dipelajari dan membangun pengetahuan baru dalam kehidupan nyata, secara kontekstual, dan/atau yangterkait bidang ilmu lain

Meaningful learning atau pembelajaran bermakna merupakan salah satu prinsip dan sangat diajurkandalam pembelajaran mendalam sebagai upaya dalam menemukan makna dari setiap ilmu yang diajarkanserta mampu menembus batas pemahaman yang lebihluas. Carl Rogers pendukung teori humanistik dalambelajar adalah membedakan dua tipe belajar yaitu, kebermaknanan dan experiential (pengalaman atansignifikansi). Guru menghubungkan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan dapat terpakai. Menurut Rogers yang paling penting dalam proses belajar adalah bagaimana guru memperhatikan prinsippendidikan dan pembelajaran dengan cara memfasilitasi pembelajar untuk mempelajari hal-hal yang bermakna bagi irinya. Belajar berinisiatif sendiri yang melibatkan pribadi murid seutuhnya, baik perasaan maupun intelektual, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan abadi.

Menurut Rogers yang paling penting dalam proses belajar pendidik mengelola pembelajaran agar pembelajar akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya dan pengorganisasian bahan pengajaranberarti mengemas bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi murid. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses. Belajar berinisiatif sendiri yang melibatkan pribadi murid seutuhnya, baik perasaan maupunintelektual, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan abadi.

Combs dan Snygg, menyatakan bahwa belajar terjadi bila mempunyai makna bagi individu. Dalamteori humatistik, murid mau belajar jika materi yangdibelajarkan memmpunyai kebermaknaan bagi dirinya. Konsep dasar yang sering digunakan adalah meaningatau makna/arti). Para pendidik sebaiknya memfasilitasipembelajar untuk memperoleh makna bagi pribadinya dari materi yang dipelajarinya dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Combs berpendapat bahwa banyak pendidik yang sering salah berasumsi bahwa belajar akan berhasil apabila materi pelajaran disusundan disajikan secara baik dan teratur sebagaimana mestinya. Sedangkan makna tidaklah menyatu pada materi pelajaran. Padahal yang penting adalah bagaimana membawa pembelajar untuk memperoleh makna bagi pribadinya dari materi yang dipelajarinya dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Meaningful learning atau pembelajaran bermaknadalampandangan Michael Fullan merupakan inti dari transformasi pembelajaran abad ke-21. Fullan tidak mendefinisikan meaningful learning hanya sebagai pemahaman materi pelajaran secara konseptual, tetapi sebagai proses pembelajaran yang bernilai secara personal, relevan secara kontekstual, dan terhubung dengan kehidupan nyata peserta didik. Pembelajaran menjadi bermakna ketika siswa merasa terlibat, memahami tujuan belajarnya, dan mampu mengaitkan pengetahuan dengan situasi nyata serta identitas diri mereka (Fullan, 2023).  Fullan menekankan bahwa meaningful learning terjadi ketika terdapat keterhubungan antara “pedagogi yang tepat”, “hubungan yang kuat antara guru dan murid”, serta “tujuan pembelajaran yang jelas dan relevan”. Ia menyoroti pentingnya pedagogical partnership, yaitukolaborasi antara guru dan siswa dalam merancang danmerefleksikan pembelajaran. Ketika murid dilibatkandalam proses merancang proyek, menyusun rubrik, atau memilih cara mengekspresikan pemahaman mereka, proses belajar menjadi lebih bermakna karena mereka tidak hanya menjadi objek, tetapi subjek pembelajaran (Fullan, 2023).

Dalam​Naskah​akademik​Pembelajaran​Mendalam dijelaskan bahwapembelajaran bermakna terjadi ketika murid dapat menerapkan pengetahuannya secara kontekstual. Proses belajar murid tidak hanya sebatas memahami informasi/penguasaan konten, tetapi berorientasi pada kemampuan mengaplikasi pengetahuan. Kemampuan ini mendukung retensi jangka panjang. Pembelajaran terkoneksi dengan lingkungan murid membuat merekamemahami siapa dirinya, bagaimana menempatkan diri,dan bagaimana mereka dapat berkontribusi kembali.

Dalam praktik nyata di ruang kelas, pembelajaran bermakna/meaningful learning dapat diwujudkan melalui pembelajaran berbasis proyek yang kontekstual dan kolaboratif. Misalnya, guru mendorong murid untuk mengidentifikasi masalah yang ada di lingkungan sekolah, seperti sampah plastik, keamanan jalan, atau pengelolaan energi, lalu membimbing mereka merancang solusi berbasis data dan teknologi sederhana. Guru bertindak bukan sebagai pusat informasi, melainkan sebagai fasilitator dan motivator yang membantu siswa merancang, merefleksi, dan mengevaluasi proses belajarnya. Model seperti ini memungkinkan interaksi kelas yang dialogis, partisipatif, dan sarat makna personal bagi murid.

Pendidik  sebaiknya  memotivasi  terjadinya  prosespembelajaran interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik, seperti yang disaran dalam Standar Proses, agar terbentuk budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada murid. Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanandan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat belajar murid.

3. Pembelajaran Menggembirakan / Joyful Learning

STANDAR PROSES – PERMENDIKDASMEN2026

Menggembirakan merupakan prosespembelajaran yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi.

Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bukan pilihan bagi pendidik, tetapi merupakan suatu keawajiban yang harus dilaksanakan. Dalam standar proses disebutkan bahwa proses pembelajaran diselenggarakan dalam suasana belajar yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didikuntuk berpartisipasi aktif dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.

Selanjutnya dalam proses juga dijelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran dalam suasana belajar yang interaktif dapat dilakukan dengan cara berinteraksi secara dialogis antara pendidik dengan peserta didik, serta sesama murid, berinteraksi secaraaktif dengan lingkungan belajar dan berkolaborasi untuk menumbuhkan jiwa gotong royong. Pendidikberperan sebagai fasilitator proses pembelajaran dan tidak menjadi satu-satunya sumber pembelajaran.

Pelaksanaan pembelajaran dalam suasana belajaryang menyenangkan  dirancang agar muridmengalami proses belajar sebagai pengalaman yang menimbulkan emosi positif. Dalam Standar Proses, guru diamanahkan untuk melakukan melaksanakan pembelajaran dalam suasana belajar yang menyenangkan paling sedikit dilakukan dengan cara:

a. Menciptakan suasana belajar yang gembira, menarik, aman, dan bebas dari perundungan;

b. Menggunakan berbagai variasi metode dengan mempertimbangkan aspirasi dari murid, serta tidakterbatas hanya di dalam kelas;

c. Mengakomodasi keberagaman gender, budaya, bahasa daerah setempat, agama atau kepercayaan 

Pembelajaran  yang  menyenangkan  (joyfull learning) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kebersamaan yang kuat antara pendidik dan murid, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan, Guru menciptakan suasana yang demokratis. Pembelajaran yang menyenangkan artinya pembelajaran yang dapat menciptakan suasana yang menggembirakan, sehingga tercipta suasana yang kondusif. Pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kebersamaan yang kuat antara pendidik dan murid, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan.Guru dan murid menciptakan suasana yang demokratis.

Hernowo mengungkapkan, “Learning is mosteffective when it’s fun”. Belajar akan berlangsung sangat efektif jika berada  dalam  keadaan  yang menyenangkan.  Menurut Hernowo bahwa belajar akan berlangsung sangat efektif jika berada dalam keadaan yang menyenangkan. Peserta didik belajar tidak dalam keadaan tertekan. Mereka melaksanakan semua tugas dan kegiatan dengan iklas, senang dan bersemangat. Guru dapat mengemas pembelajaran dengan menyisipkan lagu dan permainan-permainan yang menyenangkan sehingga murid senantiasa “direfresh”.

Suasana belajar yang menggembirakan merupakan prinsip utama Pembelajaran Mendalam, di mana pembelajaran dirancang agar bebas daritekanan yang berlebihan dan penuh dengan antusiasme. Filosofi ini menggemakan prinsip Taman Siswa yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara, di mana kebebasan berekspresi, kenyamanan, dan motivasi intrinsik murid dipupuk. Dalam suasanabelajar yang menggembirakan ini, murid termotivasi untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan semangat dan keinginan mendalam, karena dilandasi oleh keamanan psikologis yang membebaskan mereka dari rasa takut dan memungkinkan merekauntuk berekspresi, berpikir kritis, dan berkreasi tanpa hambatan.

Pendapat Dave Meier yang dikutip dari buku karya Hernowo, menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Kegembiraan berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta nilai yang membahagiakan pada diri pembelajar.

Dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen, Kemendikdasmen menjelaskan bahwa pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu murid terhubung secara emosional sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan. Ketika murid menikmati proses belajar, maka motivasi intrinsik mereka akan tumbuh. Hal ini akan mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, dan keterlibatan aktif dari murid. Dengan demikian, pembelajaran membangun pengalaman belajar yang berkesan. Bergembira dalam belajar juga diwujudkan ketika setiap murid merasa nyaman, murid terpenuhi kebutuhannya, seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan, serta kebutuhan aktualisasi diri.