Top
    bdkjakarta@kemenag.go.id
(021) 4803577 / Fax. (021) 4803578
COVID-19 MENGEMBALIKAN AKHLAK TANPA SENTUHAN

COVID-19 MENGEMBALIKAN AKHLAK TANPA SENTUHAN

Senin, 13 Juli 2020
Kategori : Artikel
338 kali dibaca

Oleh : Eem Sundiyah
Guru pada MAN 2 Kota Serang

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
Aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia

Demikian sepenggal hadis Rasulullah SAW yang menyampaikan kepada kita bahwa kehadiran Rasulullah SAW dalam rangka memperbaiki akhlak umat. Akhlak menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting dalam ajaran Islam. Di dalam Al Qur’an ditemukan lebih kurang 1.500 ayat yang berbicara tentang akhlaq. Demikian pula banyak hadis Nabi, baik perkataan maupun perbuatan yang memberikan pedoman akhlak yang mulia dalam seluruh aspek kehidupan.

Akhlak dalam Islam bukanlah moral yang kondisional dan situasional, tetapi akhlak yang benar-benar memiliki nilai yang mutlak. Nilai-nilai yang baik dan buruk, terpuji dan tercela berlaku kapan dan di waktu mana saja dalam segala aspek kehidupan, tidak dibatasi oleh waktu dan ruang.

Akhlak tidak memiliki dikotomi, akhlak lintas batas agama, suku dan adat istiadat. Kejujuran dalam aspek ekonomi sama dengan kejujuran dalam aspek politik, kejujuran terhadap non-Muslim sama dituntutnya dengan kejujuran terhadap sesama Muslim. Keadilan harus ditegakkan, sekalipun terhadap diri dan keluarga sendiri. Kebencian terhadap musuh tidak boleh menghalangi kita berlaku adil. Penegakan hukum tanpa pandang bulu, tidak membedakan antara pejabat atau rakyat biasa. Hal seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang menyebutkan: “Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya." (HR Bukhari dan Muslim).

Ajaran akhlak dalam Islam sesuai dengan fitrah dan akal manusia. Manusia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki bila mengikuti nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh Al Qur’an, hadis, dan sumber hukum Islam lainnya. Akhlak benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai mahluk sesuai dengan fitrahnya itu. Akhlak mempunyai kedudukan istimewa dan penting di abad globalisasi ini. Akhlak sering kali diabaikan. Tak terhitung berapa orang yang menggunakan teknologi untuk menyebarkan ujaran kebencian, membodohi, mengumpat, mengancam, menyebarkan informasi bohong atau hoaks.

Betapa  banyak kalangan mengambil keuntungan dengan menggunakan teknologi. Masa pandemi Covid-19 ini, berseliweran berita-berita palsu. Ketidakjujuran seseorang berkomunikasi dengan siapa sampai pihak rumah sakit mengambil keputusan status bahwa yang bersangkutan adalah positif virus corona baru mengakui bahwa ia baru datang dari luar negeri.

Islam adalah agama yang mendambakan kedamaian dan hubungan harmonis. Tetapi kedamaian itu tidak mungkin tercipta apabila rasa damai tidak muncul dalam jiwa manusia. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah bagaimana menimbulkan rasa aman yang menyangkut dirinya bahkan terhadap dirinya yang harus ia upayakan oleh dirinya sendiri.

Di tengah situasi saat ini, ketika wabah Covdi-19 begitu masif dan sangat agresif, maka manusia perlu meningkatkan rasa aman dan juga keimanannya, sekaligus juga daya imunitasnya. Iman yang menghiasi jiwa manusia akan membuat hidup mereka tegar, apapun yang dihadapi. Di tengah mewabahnya Covid 19 setiap diri kita akan memaknai peristiwa ini sebagai hal yang harus kita maknai suatu musibah atau pun cobaan dari Allah SWT.

QS Ar-Rum: 41 menyebutkan,

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Kekuasaan haruslah amanah dan diletakkan bagi kepentingan sebesar-besarnya warga bangsa dan umat. Para ulama kita secara sederhana membagi akhlak kepada dua bagian, yaitu akhlak mahmudah (terpuji) dan akhlak mazmumah (tercela). Dalam kehidupan kita mustahil bagi kita untuk melakukan semua perbuatan terpuji, tetapi kita selalu berusaha untuk konsisten dan istiqomah melakukan kebaikan. Jikalau ada perbuatan salah dan khilaf maka suatu kewajaran karena memang kita bukan makhluk sempurna.

Akhlak tidak mengenal kasta. Siapapun asalkan mereka orang-orang yang beragama maka akhlak harus menghiasi dirinya. Jangan sampai kita sibuk dengan melaksanakan syariat seperti puasa, salat, zakat, dan haji tetapi kita kehilangan akhlak.

Fenomena beragama secara syariat menunjukkan grafik yang tinggi tetapi tidak diiringi akhlak terpuji. Orang berpuasa harus berlaku jujur, memberikan hak-hak orang lain, senantiasa memelihara bibirnya dari menceritakan kejelekan orang lain, memelihara jari jemarinya dari menuliskan celotehan tak bermakna via Facebook, Twitter, Instagram, Line dan lain-lain.

Orang berpuasa selalu bertoleransi kepada siapapun tanpa pandang latar belakang, menghormati perbedaan dan tutur katanya penuh dengan hikmah. Demikian juga orang yang melaksanakan shalat lima waktu maka perilakunya tercermin dalam kesehariannya. Ia menjadi orang yang menghargai waktu, penuh dengan kedisiplinan, memiliki motivasi dan semangat untuk berbuat baik kepada siapapun, tenggang rasa, mendahulukan persaudaraan. Dalam Quran Surat Al-‘Ankabut Ayat 45 Referensi: https://tafsirweb.com/7271-quran-surat-al-ankabut-ayat-45.html disebutkan:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Bagi generasi muda sejatinya sebagai bangsa yang besar tunjukkan prestasi-prestasinya beriringan dengan akhlaknya yang terpuji. Akhlak yang harus ditunjukkan minimal tidak mudah terbawa arus dalam pergaulan bebas, berkarya, berinovasi dan berkreasi, dan berusaha melahirkan temuan-temuan baru. Selain itu, anak muda Indonesia harus saling tolong menolong di dalam hal-hal yang baik dan bermanfaat, membangun komunikasi dengan siapapun dengan bertoleransi kepada siapapun di dalam pergaulan dan tidak mengganggu kehidupan tetangga dan orang lain. Dan yang paling penting anak muda harus berakhlak menanamkan cinta Tanah Air kepada bangsa dan negerinya.

Bagi santri, pelajar atau mahasiswa tidak hanya menghormati orangtuanya tetapi lebih dari itu juga berkewajiban menghormati orang yang mengajarkan ilmu pegetahuan. Dengan guru harus kita berikan penghormatan yang tinggi. Itulah sebabnya di pesantren, yang pertama kali diajarkan oleh kiai/guru pada saat awal kita mondok adalah kitab Ta’limul Mutaalim karangan Syekh Azzarnuji yang isinya antara lain pedoman menuntut ilmu.

Salah satu jalan berkahnya ilmu yang diberikan guru adalah memuliakan guru. Seperti apa akhlak kepada guru, minimal menampilkan sikap yang rendah hati, bertutur lemah lembut kepada guru, taat dan melaksanakan nasihatnya, mendoakan setiap saat sebagaimana setiap saat kita mendoakan orangtua kita. Saat berada dalam kelas, murid atau peserta didik tidak boleh mencari cari kesalahan guru, tidak membicarakan aib dan kejelekannya, dan berusaha mengambil manfaat dari pengajarannya.

Akhlak mulia sesederhana apapun yang kita tunjukkan dalam pergaulan kehidupan kita, sungguh kita sudah berkontribusi besar bagi bangsa, negara dan tentunya agama. Bangsa yang maju dan diberkahi oleh Allah swt dimulai dari akhlak warga bangsanya dan pasti Indonesia menjadi negeri yang baldatun thayyibatun warabbun ghafuur. Wallahu a’lam bishshawab


Sumber :

Penulis : Eem Sundiyah

Editor : Ika Berdiati

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP