Artikel
Masih Harus TFH? Dua Model Ini Perlu Dicoba

Masih Harus TFH? Dua Model Ini Perlu Dicoba

Oleh : Mardiana, S.Pd
Guru pada MAN 1 Kubu Raya

Setelah tiga bulan terlewat, ternyata pandemi masih enggan berlalu dari bumi ini. Banyak hal yang harus berubah secara tiba-tiba. Hampir seluruh aktivitas dipindahkan ke dalam rumah masing-masing. Pasar tiba-tiba kehilangan keriuhannya, jalanan sepi, kemacetan terurai entah kemana. Bukan itu saja, rumah ibadah mendadak ditinggalkan jamaahnya, dan yang paling menyedihkan adalah sekolah-sekolah yang tiba-tiba lengang. Sunyi tanpa penghuni. Koridor yang biasanya dipenuhi tawa ceria anak-anak tiba-tiba menjadi hampa. Segala kegiatan yang sudah direncanakan dan dipersiapkan jauh hari sebelumnya harus tertunda bahkan gagal sepenuhnya.

Tidak berlebihan,,,tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh para pahlawan tanpa tanda jasa. Tiba-tiba dalam dilema. Di awal masa pandemi, para guru bahkan masih tetap harus ke sekolah mesti hanya mengajar di ruang tanpa siswa. Entah siapa yang menyimak. Mungkin barisan bangku kosong dan penghuni tak kasat mata. Ketika kegiatan mengajar mulai dialihkan ke rumah, Teach From Home (TFH), bapak ibu guru ini harus menerima banyak kritikan serta sorotan yang kurang menyenangkan. Misalnya, ada saja pihak yang tega mengatakan “guru makan gaji buta”. Entah apa alasannya. Padahal di masa TFH pekerjaan justru berlipat ganda. Menjadi guru bagi peserta didiknya sekaligus bagi putra-putrinya. Kemudian setelah reda masalah gaji buta dan para guru berjuang untuk tetap menyajikan pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum, justru kembali ada yang tega melukai orang-orang yang telah berjasa bagi hidupnya dengan mengatakan “guru kemaruk”, hanya karena alasan setumpuk tugas yang harus diselesaikan. Semoga kita para pendidik tetap menjaga keikhlasan meski dalam sorotan yang kurang menyenangkan.

Mengajar di masa pandemi yang membuat proses pembelajaran dialihkan ke rumah, bukan sesuatu yang gampang dijalani begitu saja. Model-model pembelajaran yang direncanakan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tidak bisa diterapkan. Guru harus mengubah rencana mengajar setiap harinya. Bagi guru yang menguasai teknologi dengan sarana dan prasarana yang memadai, kendala yang dialami tentu tidak seberapa jika dibandingkan dengan guru-guru dengan medan juang di pelosok desa tanpa dukungan media dan sarana yang memadai. Semua dipaksa mengajar daring. Menyampaikan pembelajaran dengan sistem online yang sangat bergantung pada kekuatan sinyal dan kecanggihan medianya.

Pembelajaran daring sendiri memerlukan strategi yang berbeda dengan tatap muka demi menyajikan pembelajaran yang tetap bermakna. Kita ambil contoh untuk mata pelajaran Fisika misalnya. Pembelajaran daring sangat menyulitkan ketika guru harus menjelaskan prosedur memecahkan persoalan yang ada. Jangankan yang saling berjauhan, ketika bertatap muka langsung saja, peserta didik masih banyak yang tidak dapat memahami penjelasan. Lalu, bagaimanakah model pembelajaran daring yang dapat tetap menyajikan pembelajaran bermakna? Maka tugas kita sebagai pendidik adalah merencanakan dengan baik sebagaimana kita membuat RPP pada pembelajaran tatap muka.

Dua model pembelajaran berikut bisa bapak/ibu coba terapkan dalam pembelajaran daring. Pertama adalah model pembelajaran Experiential Learning (EL) dan Blended Learning (BL). Paparan tentang pengertian dan langkah-langkah model EL dan BL ini dijabarkan sebagai berikut:

  1. Experiential Learning (EL)
    Apakah ini sesuatu yang baru bagi bapak/ibu? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Model ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1975 oleh David Kolb. Menurut (Kolb, 1984) EL didefinisikan sebagai “the process whereby knowledge is created through the transformation of experience.” Jika kita artikan EL adalah suatu proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman. Maka di sini peran peserta didik adalah untuk mengelola aktivitas pembelajaran yang dibangun dari pengalaman masa lalu dan menghubungkannya dengan pengalaman baru. Selama ini kita sering menerapkannya ketika memberikan apersepsi di awal membuka pembelajaran. Ya, semua kita sudah pernah melakukannya. Namun, seringkali kita melakukannya hanya di awal dan tidak memenuhi langkah-langkah EL secara utuh.

    Sebuah ungkapan dari Confucius “I hear and I forget, I see and I remember, I do, and I understand” mengisyaratkan bahwa seseorang baru akan paham ketika ia bukan hanya melihat dan mendengar sesuatu, tetapi harus sampai pada tahap ‘do’ melakukan sesuatu itu. Hal ini senada dengan petuah Albert Einstein yang mengatakan bahwa ”informasi bukanlah pengetahuan, satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman”. Demikianlah  para filsuf dan ilmuwan berbicara tentang pentingnya pengalaman dalam prosespembelajaran.

    Pada umumnya model EL ini diterapkan dalam pembelajaran tatap muka, karena menekankan pada pengalaman fisik yang harus dikonstruksi oleh peserta didik. Namun, belakangan EL ini juga dikembangkan dalam pembelajaran daring seperti pada kegiatan diklat jarak jauh. Setidaknya kita bisa menerapkan empat langkah pembelajaran sebagaimana yang direkomendasikan oleh Kolb dalam pembelajaran jarak jauh kita. Penulis akan sekaligus memberikan contoh aplikasinya dalam mata pelajaranFisika.

  1. Experience(pengalaman)
    Pada bagian awal ini, izinkan seluruh/sebagian peserta didik membagikan pengalamannya tentang materi yang akan dipelajari. Misalnya jika kita sedang membahas materi ‘Perpindahan Kalor’. Maka buat forum untuk peserta didik bercerita tentang pengalamannya tentang perpindahan kalor. Lalu berikan tanggapan. Sebelum memulai langkah ini sebaiknya kita sudah membuat Satuan Acara Pembelajaran (SAP) yang dibagikan kepada peserta didik meliputi Kompetensi Dasar, Indikator, Tujuan Pembelajaran, dan Kegiatan Pembelajaran, agar peserta didik terarah ketika berbagi pengalaman yang sesuai denganSAP.
  2. Refleksi
    Pada tahap refleksi, ajukan beberapa pertanyaan sesuai indikator pembelajaran. Pertanyaan ini bertujuan untuk merefleksi sejauh mana pengatahuan awal peserta didik tentang materi, misalnya: Bagaimana cara panas berpindah? Apa perbedaan konduksi, konveksi dan radiasi? Apa saja faktor yang mempengaruhi perpindahan panas? Bagaimana cara menghitung laju kalor konduksi, konveksi dan radiasi? Biarkan mereka menjawab pertanyaan berdasarkan apa yang telah mereka ketahui saja. Jangan ambil penilaian pada tahap ini.
  3. Konseptualisasi
    Nah, setelah menganalisis hasil refleksi, maka saatnya guru melakukan tindakan pemberian materi dan peserta didik siap untuk mengabstraksi setiap konsep baru yang diperolehnya. Sajikan materi sesuai dengan indikator pembelajaran. Materi ini bisa berbentuk file word, PDF, slide power point, dan juga dapat berbentuk video yang bisa diakses dengan mudah oleh peserta didik. Bahan pembelajaran berbentuk video cukup efektif untuk menjelaskan cara menyelesaikan soal perhitungan.
  4. Eksperimentasi
    Saatnya eksperimen!! Pada tahap ini fasilitasi peserta didik untuk menerapkan pengetahuan yang telah dikonstruksinya. Berikan pertanyaan sesuai indikator dan berdasarkan materi yang disajikan. Berikan penilaian pada tahapan ini. Rancang pembuatan soal dengan pengaturan waktu yang sesuai kerumitan soal. Berikan kesempatan mengulang, jika ada yang belum tuntas.

Dari keempat langkah yang direkomendasikan Kolb tersebut, kita bisa menambahkan kolom diskusi untuk membuka interaksi antar peserta didik mengingat mereka tidak saling bertemu satu sama lain, sehingga tetap terjalin keakraban dan kehangatan di ruang virtual kita. Keempat langkah itu bisa kita sajikan dalam pembelajaran daring melalui berbagai fasilitas yang biasa digunakan seperti WhatsApp Grup, Google form, Google Classroom, blog pribadi atau fasilitas e-learning lainnya yang lebih komplit seperti Learning Management Sysytem (LMS) dan Learning Content Management System (LCMS). Tugas kita adalah agar dapat mengemasnya dengan baik.

  1. Blended Learning(BL)
    Model ini sangat cocok diterapkan bagi pendidik yang berada pada zona hijau dan masih punya kesempatan tatap muka meski hanya sebentar. Blended Learning ini merupakan model campuran yaitu proses pembelajaran yang mengombinasikan pembelajaran tatap muka dan online. Pembelajaran yang dirancang untuk fokus mengombinasikan aktivitas pembelajaran synchronous (langsung) dan pembelajaran asynchronous (tidak langsung). Guru bisa saja menggunakan model EL dengan sebagian langkah-langkah di atas dalam pembelajaran online, kemudian melanjutkan langkah pada saat tatap muka. Guru juga mungkin menggunakan kombinasi model pembelajaran lain sebagaimana yang sudah dikuasai.

Jadi, bapak/ibu guru jangan khawatir, meski kita masih harus mengajar dari rumah (TFH), kita tetap dapat menyajikan pembelajaran bermakna dengan menerapkan model Experiential Learning (EL) yakni pembelajaran melalui pengalaman, dengan melaksanakan tahap-tahap seperti experience, refleksi, konseptualisasi dan eksperimentasi secara daring atau dapat juga menerapkan Blended Learning, yaitu perpaduan pembelajaran daring dan tatap muka dengan variasi model yang terencana dengan baik.

Demikianlah tulisan ini penulis tutup dengan kata-kata lama yang seringkali terbaca di bagian paling bawah buku tulis jaman old, tahun 90-an, yang menghiasi catatan kaki tiap halaman buku tulis tersebut. “Experience is the best teacher”, “Pengalaman adalah guru terbaik”, maka dari itu penulis berharap pengalaman menyajikan pembelajaran di tengah pandemi ini juga dapat menjadi guru terbaik bagi kita semua. Aamin.