
Kenangan di Kota Semarang “Mie Rebus dan Secangkir Kopi Seharga Dua Juta Rupiahâ€
Pagi itu, Selasa, 11 Februari 2020, hari ketiga kegiatan yang diadakan Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan di Kota Semarang dengan agenda kegiatan Revisi Kurikulum Pelatihan yang diinisiasi oleh Bidang I, yaitu Bidang Perencanaan dan Penjaminan Mutu. Mengawali kegiatan pagi itu dengan shalat subuh berjamaah di mesjid megah Kota Semaragung Simpang Lima yaitu Mesjid Baiturrahman. Terbangun jam 03.40 langsung berkemas ke masjid dengan mandi pagi, berwudhu dan langsung menuju ke masjid, Tidak ada firasat apapun akan menimpa pada hari itu. Shalat subuh khusyu berzikir dan langsung kembali ke hotel setelah berkeliling sejenak melihat atraksi indah pemain sepatu roda yang terus berputar putar mengelilingi simpang lima sengan gerakan cepat indah seirama.
Sesampai kamar hotel 1109 Grand Arskendo, entah apa yang merasuki pikiranku ingin berjalan sendiri dan mencari tempat ngopi yang awalnya dompet tersimpan rapi di kamar hotel ku ambil dompet itu tentu berisi kartu-kartu dan tentu ATM BRI terselip di dalamnya, kumasukan ke saku belakang dengan penuh perasaan bahagia mau refreshing sejenak tak lupa kupakai sendal hotelku yang hari-hari sebelumnya tidak pernah aku pakai sendal hotel itu.
Tak jauh dari penginapan (kurang lebih 30 meter dari lobi hotel dimana aku menginap) kutemui tempat ngopi biasa dilorong-lorong tempat lewat orang-orang ramai. Duduklah aku di salah satu tempat ngopi. Tak lama kemudian sahabatku bapak afroji menyapa dan langsung berlalu dengan aktifitas sendiri. Selang berikutnya menyapa pula dua sahabatku yang lain, yaitu ibu Cut dan mba Martatik dan berlalu dengan aktifitas masing-masing pula
Kupesan kopi kapal kapal hitam (biasa tanpa diaduk) dan juga Indomie rebus rasa soto dengan ditaburi potongan cabe rawit. Nikmat kurasakan pagi itu, cabe rawitnya menyegarkan otaku sampai terasa nikmat dan sesekali diselingi dengan kopi hitam yang telah tersaji disampingku. Iringan lagu dangdut di tempat ngopi tersebut menambah nikmatnya suasa saat itu sampai tiba saatnya datang dua orang memesan kopi hitam dan bercerita tentang lagu dangdut kesukaannya yang diperdengarkan. “Lagu ini lagu masa lalu saat saya masih kecil” begitulah awal seorang menyapa aku, ia perlente berbusana jins dengan pakaian berwarna gelap dan rapi. Tanpa ada kecurigaan sedikitpun aku layani percakapan itu sampai akhirnya saling berkenalan, dan dua orang tersebut menyampaikan sedang ada kegiatan BUMN PERTAMINA dan dia adalah salah satu pegawainya.
Salah seorangnya lagi berperawakan agak kurus dan tinggi mengenakan kaos santai, memperkenalkan dirinya orang Banjarmasin dan menanyakan tempat aku bekerja dan tempat tinggalku. Saat kusebut aku berdinas di Kemenag, langsung ia bercerita tentang Kota Banjarmasin yang sangat-sangat Islami bahkan menyamai dengan serambi Mekkah. Semakin hangatlah kami berceritera kemana mana sampai ia menyampaikan istrinya pula orang Bogor beralamat di Yasmin, dan kebetulan satu kecamatan denganku masih di Kecamatan Tanah Sareal. Maka percakapan kami bertiga semakin akbar dan menyatu hati kami.
Taka lama kemudian datanglah orang bermuka sipit berlogat melayu kental berperawakan kurus kecil tapi rapi dan necis seperti orang yang kebingungan dan mengaku baru datang dari Brunei Darussalam dan ia baru turun dari taxi dan membayar 500 ribu rupiah. Spontan kedua orang tadi menyatakan: “bapak ditipu pa, dari tempat bapak paling bayarnya cuma 50 rb,” Kemudian ia menyampaikan maksudnya mencari mesjid Tua di di Kota Semarang untuk memberikan sejumlah dana bantuan dari Kerajaan Brunei Darussalam. “Bapak tidak salah ketemu kami, bapak ini (menunjuk ke arahku) adalah pegawai Kemenag mungkin bisa antar bapak ke mesjid tua tersebut”. Yang kurasakan sedikit aneh adalah selama sekian kami berbincang-bincang selama itu pula tidak ada teman, sahabat atau siapa saja yang melewati tempat kami berbincang, padahal tidak jauh kami berbincang dengan hotel yang kutempati, tempat kami berbincangpun adalah tempat keramaian orang atau tempat umum berlalu lalangnya orang kian kemari, bahkan sebelum kami berbincang dengan mereka sempat berlalu lalang sahabat kami.
Salah seorang dari mereka mengajaku untuk mengantar ke mesjid, “kebetulan mobil dinas kami sudah tersedia,” ujarnya . Karena suasana masih pagi dan kegiatan masih lama dimulai, maka akupun turut dengan mereka dengan tujuan ke Mesjid Tua kota Semarang. Karena aku belum bayar kopi dan Indomie ketika aku mau bayar ternyata indomie dan kopi yang aku nikmati telah mereka bayar. Bergeraklah mobil yang kami tumpangi, mobil Rush Hitam masih mulus. Di Tengan jalan kami berhenti di ATM BNI, sementara aku tak mengenal tempat itu dimana. “Pak berhentu dulu pak, kita liat, apa bener orang ini akan memberi bantuan, kita liat ATM nya, takut ia berbohong,” salah seorang dari mereka berkata agak keras, spontan supir memberhentikan mobilnya disamping ATM BNI. Kami berempat masuk semuanya ke dalam ATM BNI tersebut. Disitulah tempat aku bener-bener telah dikuasai oleh ketiga orang tersbut.
Seorang yang mengaku dari Brunei pertama memasukan ATM Britama berwarna merah dengan PIN dan ia memperlihatkan PIN ATM nya : “123456” dan langsung tertera sembilan ratus jutaan lebih, dan aku menyaksikan dan melihat langsung saldonya. “Uang inilah pa yang akan kami bagikan, setiap mesjid 200 juta” sang penipu sipit itu berkata dengan logat Bruneinya.
Aksi kedua adalah teman ngopi saya (padahal komplotan mereka) memasukan ATM BRI berwarna Biru dan memperlihatkan PIN nya dan diperlihatkan saldonya 97 juta lebih. Selanjutnya tinggal giliran saya memasukan ATM BRI saya dan PIN nya si sipit yang dari Brunei itu yang memijitnya dan aku dengan tenangnya menyebutkan PIN BRI ku, dan tertera saldoku hanya kurang lebih 2 juta. Kemudian mereka bertiga bertanya lagi membawa ATM apalagi, dan ku katakan bahwa aku hanya membawa ATM BRI saja. Aku dibuat sibuk dengan kartu ku sampai kami masuk ke mobil dan si sipit berlogat Brunei tersebut berpesan kepadaku untuk menjaga ATM ku dan memasukan kembali ke dompet. Sambil merapihkan dompetku, aku mengatakan: “saya juga Bendahara Mesjid,” langsung si yang mengaku Brunei itu memelukku sampai haru dan ia benjanji akan bertemu sore hari nanti untuk membahas pengiriman uang buat kami bertiga (untuk aku dan dua orang teman ngopiku)
Salah satu dari mereka bahkan memeriksa dompetku, barangkali ada ATM lain yang aku bawa, kartu pegawaipun ditunjuk-tunjuk kali berfungsi sebagai ATM, bahkan kartu Alfa Maretpun tak luput dari pemeriksaan mereka. Rupanya itu adalah trik yang mereka lakukan agar kami sibuk dan membantah semua kartu-kartu yang mereka tanyakan, atau jika masih ada ATM yang lain juga akan mereka ambil dan meminta PIN-ku. Akhirnya kesibukanku merapihkan kartu-kartu tersebut kuduga adalah salah satu modus bagi mereka untuk menukarkan kartu ATM ku dengan kartu ATM mereka. Dan benar sekali mereka berhasil menukar kartru ATM ku dengan yang lain.
Hal lain yang kupikirkan saat ini adalah bahwa saat itu aku telah dikuasai baik pikiran/emosi juga fisik, seandainya kesadaranku saat itu muncul, kemudian aku menolah memberikan PIN dan sadar bahwa aku sedang ditipu, maka mereka dapat berbuat apapun sampai berbuat kekerasan secara fisik, tentu karena mereka telah menguasaiku dan keberadaanku tidak tahu dimana. Faktanya sebenarnya aku sedang diculik dan dibawa jauh yang akupun tidak tau dimana keberadaan ku saat itu . Jadi mereka sangat leluasa untuk berbuat apapun
Setelah aksi saling buka-bukaan ATM kami pun bergegas ke mobil dan pembicraan akrabpun terus kami lanjutkan dengan mendoakanku supaya bisa berumroh sekeluarga, atau kalau ada saudara yang ingin bekerja di Brunei Darussalam ia siap mengurus segalanya sampai tuntas. Perbincangan semakin akrab sambil mobil terus bergerak entah kemana akupun tidak tahu
Mobil terus bergerak sampai tiba kembali di depan tempat aku ngopi. Aku diturunkan di tempat itu kembali, dengan kebingungan akupun turun hatiku berkata: “katanya mau ke Mesjid Tua Kota Semarang, ko saya diturunkan disini.” Dalam kondisi setengah sadar aku menunju lantai empat hotel untuk sarapan, dan saat aku duduk HP ku berbunyi, ternyata sms masuk dan ternyata ada laporan Debit, pengambilan uang, langsung aku cek saldoku ternyata hanya tersisa 81 rb. Sahabatku, bapak Yasri langsung mengantarkan aku ke ATM untuk mengecek apakah ATM yang masih kupegang adalah milikku, ternyata ATM ku telah terganti dengan ATM orang lain. Astagfirullah…. ternyata pagi ini saya terkena tipu dan orang-orang menyatakan kena HIPNOTIS. Setelah kesadaranku inget (walau belum 100 %) aku baru tersadar kopi dan Indomie Rebusku di pagi itu harus kutebus seharga Dua Juta Rupiah.
Pelajaran Yang bisa kita ambil adalah:
- Jika berada di luar kota diusahakan tidak sendiri bila bepergian kemana-mana, ajak teman kita menemaninya
- Jika terpaksa keluar sendiri usahakan tidak menggunakan sendal hotel dan hindari berdiam di tempat sepi/jauh dari keramaian
- Jangan langsung percaya kepada siapapun yg baru kita kenal, lebih baik kedepankan rasa curiga kepada orang yang belum kita kenal dari pada percaya yang berakibat merugikan