Top
    bdkjakarta@kemenag.go.id
(021) 4803577 / Fax. (021) 4803578
Tantangan Guru Gagap Teknologi pada Pembelajaran Jarak Jauh

Tantangan Guru Gagap Teknologi pada Pembelajaran Jarak Jauh

Senin, 30 November 2020
Kategori : Artikel
17551 kali dibaca

Oleh : Satariyah
Guru pada MTs N 2 Melawi

Pandemi covid-19 yang melanda dunia telah mengubah system kehidupan manusia di segala bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Adanya kebijakan untuk melakukan work from home (WFH), social and physical distancing, megharuskan masyarakt tetap stay at home, bekerja, beribadah dan belajar dari rumah. Kondisi demikian menuntut lembaga pendidikan melakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Dengan dihapuskannya Ujian Nasional, belajar di rumah melalui aplikasi tertentu, kuliah daring, bimbingan dan seminar daring merupakan contoh pelayanan bidang pendidikan yang mempercepat penerapan pendidikan era revolusi industri 4.0. Dari beberapa kasus di atas menuntut peran teknologi dalam bidang pendidikan di tengah pandemi covid-19, para tenaga pendidik dan peserta didik diharapkan dapat menyesuaikan diri dan memanfaatkan teknologi.

Mengutip data Ikatan Guru Indonesia (IGI), Lestari Moerdijat, wakil ketua MPR mengungkapkan berdasarkan pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh yang diterapkan tiga bulan terakhir tercatat 60% guru memiliki kemampuan sangat buruk dalam penggunaan teknologi informasi saat mengajar. Kendala gagap teknologi di kalangan guru ini harus segera diatasi. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mengatasi buruknya pemahaman teknologi di kalangan guru.

Apa itu Pembelajaran Jarak Jauh?
Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang dalam istilah bahasa Inggris disebut sebagai distance education, adalah pendidikan formal berbasis lembaga yang peserta didik dan instrukturnya berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya. Pembelajaran elektronik (e-learning) atau pembelajaran daring (online) merupakan bagian dari pendidikan jarak jauh yang secara khusus mengabungkan teknologi elektronika dan teknologi berbasis internet.

Kemajuan yang terjadi dalam dunia teknologi komunikasi dan informasi memunculkan peluang maupun tantangan baru dalam dunia pendidikan. Peluang baru yang muncul termasuk akses yang lebih luas terhadap konten multimedia yang lebih kaya, dan berkembangnya metode pembelajaran baru yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Di sisi lain kemajuan teknologi dengan beragam inovasi digital yang terus berkembang juga menghadirkan tantangan baru bagi penyelenggara pendidikan untuk terus menyesuaikan infrastruktur pendidikan dengan teknologi baru tersebut.

Tantangan Guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi pilihan utama dalam menyampaikan materi kepada peserta didik pada masa pandemi. Daring, luring dan blended merupakan cara untuk para guru melaksanakan proses Pembelajaran Jarak Jauh. Penguasaan IT dan adaptasi guru dalam menyampaikan materi yang berbeda dengan yang biasa dilakukan merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui. Penguasaan teknologi dalam menggunakan laptop, WhatsApp, dan berbagai jenis media yang bisa dimanfaatkan untuk melaksanakan pembelajaran daring menjadi hal yang sangat penting. Apapun bentuk proses pembelajaran baik daring, luring maupun blended harus tetap dilaksanakan agar pembelajaran tetap berjalan. Berbagai cara dilakukan agar proses pembelajaran dapat berlangsung dan peserta didik tetap merasakan pendidikan meskipun tidak menuntut ketuntasan kurikulum.

Semua kegiatan pembelajaran yang tertuang dalam rencana pembelajaran jarak jauh berupa skenario pembelajaran yang dituangkan dalam sebuah naskah pembelajaran sebagai pengganti kegiatan guru yang semula dilakukan secara tatap muka dilakukan dengan mengkolaborasikan peran orang tua peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilakukan di rumah. Orang tua berperan sebagai penerus penyampaian materi yang seharusnya dilakukan oleh guru, terutama untuk kelas-kelas tingkat dasar. Walaupun terdapat kendala di lapangan misalnya minimnya kesempatan orang tua untuk melakukan pendampingan karena sibuknya pekerjaan, kurangnya pengetahuan di bidang IT, bahkan ada sebagian orang tua peserta didik yang tidak mempunyai handphone serta kurangnya kemampuan orang tua dalam membaca.

Untuk itu peran guru sangat penting dalam mengatasi berbagai kendala yang dilakukan dalam menyampaikan materi baik daring, luring atau blended. Guru hendaknya melakukan pemetaan terhadap peserta didik dan orang tua baik tentang jarak rumah, kepemilikan handphone, jaringan internet, paket internet ataupun kemampuan serta kesempatan para orang tua peserta didik untuk mendampingi anaknya dalam kegiatan pembelajaran.

Guru sebagai aktor utama dalam pembelajaran, dia yang harus mengemas pembelajaran jarak jauh agar dapat diakses oleh seluruh pesera didik. Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak ditemukan guru yang belum menguasai Ilmu Teknologi (IT), seperti menggunakan laptop atau mengajar melalui daring (internet). Akibat kurangnya pemahaman terhadap IT, terpaksa guru hanya memberi buku untuk dibaca, memberikan tugas untuk dikerjakan yang penting anak-anak tetap belajar dari rumah dan tidak menganggur. Akibatnya dalam jangka panjang peserta didik mengalami kejenuhan belajar, karena mereka merasa tidak mendapat pengalaman belajar yang mengesankan, Tidak dapat dibayangkan bagaimana kondisi generasi pada masa pandemi ini, akan terjadi penurunan prestasi belajar pada peserta didik.

Dampak Negatif Pembelajaran Jarak Jauh
Menurut Nadiem Makariem, Mendikbud RI, banyak riset menunjukkan bahwa situasi pandemi yang mengharuskan PJJ, ada dampak negatif terhadap anak. Bahkan dampak ini bisa berkepanjangan jika tak ada tindakan yang diambil. Dampak pertama, adalah ancaman putus sekolah dikarenakan banyak anak terpaksa bekerja karena beberapa faktor. Mulai PJJ yang tak maksimal hingga ketiadaan fasilitas pendukung PJJ. Selain itu, ada pula beberapa persepsi orang tua yang juga berubah,mengenai peran sekolah dalam proses pembelajaran karena PJJ yang tak maksimal. Dampak kedua, ancaman penurunan capaian belajar, karena adanya kesenjangan kualitas antara yang punya akses terhadap teknologi dan tidak itu semakin besar. Dampak ketiga, adalah meningkatnya kekerasan terhadap anak selama PJJ. Selain itu, anak pun memiliki resiko psikososial, akibat stress terus menerus di dalam rumah dan tak dapat bertemu teman-teman. Namun di sisi lain, menurut Nadiem Makarim, faktor kesehatan dan keselamatan anak juga sama pentingnya.

Langkah-langkah Perbaikan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh
Kendala-kendala Pembelajaran Jarak Jauh, misalnya guru merasa kaget karena harus mengubah sistem, silabus dan proses belajar secara cepat, siswa yang terbata-bata karena mendapat tumpukan tugas sampai orang tua yamg merasa sress ketika mendampingi proses pembelajaran dengan tugas-tugasnya, harus segera diseleseikan. Ada beberapa langkah yang dapat menjadi renungan bersama dalam perbaikan sistem Pembelajaran Jarak Jauh:

Pertama, semua guru harus bisa mengajar jarak jauh yang notabene harus menggunakan teknologi. Peningkatan kompetensi guru di semua jenjang untuk menggunakan aplikasi Pembelajaran Jarak Jauh mutlak dilakukan. Kompetensi minimal TIK guru level 2 harus segera diwujudkan termasuk kemampuan melakukan vicon (video conference) dan membuat bahan ajar online. Level 2 ini merupakan pengelompokan kompetensi TIK guru yang ideal berdasarkan Teacher ICT Framework oleh UNESCO. Level tertinggi adalah level 4 dimana guru sudah mampu menjadi trainer bagi guru lain. Jika kompetensi guru sudah level 2, maka guru akan mampu menyiapkan sistem belajar, silabus dan metode pembelajaran dengan pola digital atau online.

Kedua, pemakaian teknologi pun juga tidak asal-asalan, ada ilmu khusus agar pemanfaatan teknologi dapat menjadi alat mewujudkan tujuan pendidikan yakni Teknologi Pendidikan (TP). Pembelajaran online tidak hanya memindah proses tatap muka menggunakan aplikasi digital, dengan disertai tugas-tugas yang menumpuk. Ilmu teknologi pendidikan mendesain sistem agar pembelajaran online menjadi efektif, dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan secara khusus.

Ketiga, pola pembelajaran daring harus menjadi bagian dari semua pembelajaran meskipun hanya sebagai komplemen. Intinya supaya guru membiasakan mengajar online. Pemberlakuan sistem belajar online yang mendadak membuat sebagian besar guru kaget. Ke depan, harus ada kebijakan perubahan sistem untuk pemberlakuan pembelajaran online dalam setiap mata pelajaran. Guru harus sudah menerapkan pembelajaran berbasis teknologi sesuai kapasitas dan ketersediaan teknologi.

Keempat, guru harus punya perlengkapan pembelajaran online. Peralatan TIK minimal yang harus dimiliki guru adalah laptop dan alat pendukung video coverence. Keberadaan perangkat minimal yang harus dimiliki guru sangat perlu dipikirkan bersama baik pemerintah kab/kota, provinsi dan pusat termasuk orang tua untuk sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Kelima, ketimpangan infrastruktur digital antara kota besar dan daerah harus dijembatani dengan kebijakan teknologi informasi untuk daerah yang kekurangan. Akses internet harus diperluas kapasitas bandwithnya juga harus ditingkatkan.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, sitem pendidikan kita harus siap melakukan lompatan untuk melakukan transformasi pembelajaran daring bagi semua siswa dan oleh semua guru. Kita memasuki era baru untuk membangun kreativitas, mengasah skill siswa, dan peningkatan kualitas diri dengan perubahan sistem, cara pandang dan pola interaksi kita dengan teknologi. Karena belajar harus tetap berjalan dalam kondisi apa pun.


Sumber :

Penulis : Satariyah

Editor : Ika Berdiati

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP