Artikel
Agile Mindset, Jurus Jitu Pendidik Hadapi Perubahan

Agile Mindset, Jurus Jitu Pendidik Hadapi Perubahan

Oleh : Dwi Ning Wahyuni Budi
Guru pada Madrasah Tsanawiyah Negeri 34

Setahun sudah , semua negara berada pada kondisi yang sangat berbeda.  Semua aspek kehidupan mengalami perubahan secara siknifikan.  Dimensi Pendidikan tak kalah sibuknya. Semua berbenah untuk bisa eksis dalam pelayanan di dunia Pendidikan. Dalam momen inilah setiap sekolah pada umumnya, dan setiap pendidik pada khususnya teruji dalam menyikapi semua perubahan yang ada.

Konsep agile mindset merupakan  tahapan pertama dalam menghadapi perubahan, sebelum individu memiliki agile practing.  Pada tahap agile mindset lebih kepada how to response the changes. Sebuah konsep yang mengharuskan setiap individu memiliki kemampuan yang tangkas untuk mampu beradaptasi dengan perubahan.  Bagaimana sebuah proses Pendidikan yang erat dengan proses transfer knowledge dengan pola yang biasa, berubah menjadi sebuah proses dengan pola yang luar biasa. Bagaimana institusi  pendidikan menjadi sebuah tempat atau  laboratorium inovasi bagi proses pendidikan, garda terdepan ada di agile mindset para pendidiknya.

Siap melakukan perubahan menjadi tantangan tersendiri, kenapa? Karena belum tentu semuanya siap menghadapi dan mau adaptasi dengan perubahan. Alasan-alasan klasik sering dimunculkan, sebagai bentuk pemakluman terhadap diri sendiri. Fokus kepada pendidik, konsep agile mindset yang dimiliki oleh seorang pendidik dapat menjadi sebuah starting point yang luar biasa, sebelum kita melakukan perubahan dari sisi institusinya. Konsep agile mindset selalu menggunakan prinsip think big, start small . Perubahan dengan kemampuan melakukan adapatasi yang dilakukan oleh seorang pendidik dalam transfer knowledgenya akan memberikan efek bola salju bagi kemajuan pendidikan dalam skala besar.

Evaluasi sederhana untuk diri kita sebagai pendidik terkait apakah kita sudah memiliki agile mindset atau sedang berproses untuk memiliki agile mindset, akan terlihat dari seberapa inovasinya kita sebagai seorang pendidik dalam melakukan transfer knowledge kepada siswa kita di saat pandemi. Berbagai macam aplikasi pembelajaran daring tersebar dalam setiap waktu dan setiap tempat. Keinginan untuk mau mempelajari dan menggunakan aplikasi pembelajaran tersebut dalam kegiatan belajar mengajar kita di kelas akan menjadi sebuah indikasi bahwa kita mencoba adaptable dengan perubahan yang ada. Itu baru dari sisi  penggunaan media pembelajaran yang dipakai. 

Tingkat yang lebih dahsyat dari agile mindset jika dimiliki oleh  seorang pendidik adalah jika terjadi kolaborasi antar- pendidik dalam mendesain pembelajaran yang lebih maju. Proses problem solving yang biasa dilakukan bisa mengarah kepada design thinking yang luar biasa. Analogi dari kedua hal tersebut bisa diambil contoh, jika pendidik tidak lagi bertanya 5+5 berapa , tetapi dengan design thinking lebih kepada 10 itu bisa didapat dari cari apa saja?

Seorang pendidik yang memiliki agile mindset sejatinya adalah seorang yang di kepalanya selalu memiliki ide-ide kreatif yang akan dilakukan di dalam pembelajarannya. Ketangkasan yang diaplikasikan dalam inovasi pembelajaran merupakan lecutan sangat penting untuk melakukan sebuah perubahan dalam pembelajaran. Bagaimana seorang pendidik bisa meledakkan potensi yang dimiliki oleh setiap siswa yang ada di kelas menjadi lompatan besar dalam pembelajaran yang dilakukan. Pendidik dengan agile mindset yang dimilikinya bisa merubah ruang belajar menjadi hutan belantara yang ditumbuhi dengan berbagai macam jenis tumbuhan dengan keunikan dan spesifikasi masing-masing. Konsep menjadikan ruang belajar tidak hanya sebagai lahan pertanian atau perkebunan yang ditanami oleh satu atau dua jenis tanaman saja, tetapi bagaimana ruang – ruang belajar bisa menjadi sebuah hutan belantara yang di dalamnya terdapat berbagai macam potensi dari siswa dan mendapatkan hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

Sangat ideal bukan? . Menuju Revolusi Industri 4.0 mau tidak mau kebutuhan akan ketangkasan menghadapi perubahan harus dimiliki oleh setiap individu. Empat  hal yang sangat penting untuk membangun agile mindset:

  1. People agility. Sebuah kemampuan yang menekankan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Unsur kecakapan berkomunikasi juga menjadi target pembelajaran abad-21 yang mesti diberikan kepada siswa, sangat menjadi wajar jadinya, jika pendidik pun harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, secara formal ataupun informal
  2. Result Agility. Selalu fokus kepada tujuan dan hasil pekerjaan, dengan tetap mengutamakan kualitas di setiap pekerjaan. Proyek pendidikan merupakan proyek besar dari sebuah negara. Kualitas sebuah negara sangar erat hubungannya dengan kualitas pendidikan yang ada di negara tersebut. Maka focus kepada prestasi kinerja dengan parameter yang ada menjadi kebutuhan yang mutlak bagi sebuah institusi pendidikan dengan jelasnya fokus pendidik dalam pembelajaran yang dilakukan
  3. Mental Agility. Memiliki sikap pantang menyerah menghadapi setiap tantangan dalam pekerjaan. Mental Block sangat mempengaruhi seseorang berani mencoba sesuatu yang baru. Masa pandemi menjadi tantangan tersendiri yang “nyentrik” untuk disikapi oleh seorang pendidik. Mengapa? Ya, karena di masa pandemi setiap pendidik diuji kemampuannya untuk mendisain pembelajaran jarak jauh yang variatif dan kompetitif.
  4. Learning Agility. Memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi diri dengan terus mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan pekerjaan. Ibaratnya sebuah gentong berisi air, yang harus memenuhi wadah-wadah, gentong itu idealnya harus senantiasa terisi bahkan dibersihkan agar apa yang ada dan yang terlarut di dalamnya, senantiasa bersih dan menyehatkan. Demikian juga pembelajaran. Seorang pendidik yang senantiasa menumbuhkan spirit pembelajara dalam dirinya, akan terus melakukan proses perbaikan dan peremajaan pengetahuan yang dimilikinya, yang pada akhirnya berefek kepada proses pembelajaran yang dilakukannya di dalam ruang-ruang belajar. (Wallahu’alam)