
Cinta Diri dan Sesama Manusia: Fondasi Kemanusiaan dalam Kurikulum Berbasis Cinta
Oleh Cecep Hilman & Qurrota A’yuni Widyaiswara
Balai Diklat Keagamaan Jakarta
Dunia yang kita tinggali hari ini sedang mengalami defisit cinta. Data global tentang kesehatan sosial memperlihatkan gejala krisis kemanusiaan yang semakin nyata. Laporan UNESCO menunjukkan lebih dari sepertiga pelajar dunia pernah mengalami kekerasan emosional dan bullying, sebuah tanda bahwa ruang aman psikologis semakin menyempit di lingkungan pendidikan. Di sisi lain, riset WHO menegaskan peningkatan gangguan kecemasan khususnya pada usia dewasa muda, banyak di antaranya dipicu oleh relasi sosial yang tidak sehat, tekanan sosial, serta hilangnya ruang kasih di tengah masyarakat.
Fenomena-fenomena ini selaras dengan pesan yang ditulis dalam Diary Petualangan Panca Cinta: terlalu banyak “benih cinta” yang gagal tumbuh, dan terlalu banyak “hama batin” seperti kemarahan yang tidak terkelola, ketakutan sosial, kompetisi yang mematikan kolaborasi, hingga budaya bully yang merampas martabat manusia.
Pendidikan modern yang bergerak cepat memperparah situasi ini. Banyak pendidik dan peserta didik tertinggal dalam perlindungan emosional karena tekanan, dinamika sosial, dan tuntutan yang terus meningkat. Kelelahan mental yang mereka alami berdampak langsung pada kualitas pembelajaran, suasana kerja, serta motivasi peserta didik. Di titik inilah urgensi membangun kembali fondasi kemanusiaan menjadi sangat penting. Kita tidak lagi cukup dengan kemampuan teknis. Dunia membutuhkan akar yang lebih dalam: akar cinta, empati, dan welas asih yang membuat pendidik dan pendamping masyarakat mampu menjadi petani-petani cinta di dunia yang semakin keras.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) hadir untuk mengembalikan manusia sebagai pusat dari proses belajar—bukan sebagai objek sistem, tetapi sebagai jiwa yang harus dirawat. Cinta dalam kerangka KBC bukan sentimentalitas, tetapi pendekatan psikologis, spiritual, dan sosial yang bersumber dari nilai-nilai Islam dan praktik pendidikan yang manusiawi.
KBC: Hubungan Sosial, Makna Psikologis dan Spiritual
Perspektif KBC, cinta diri bukan berarti egois atau narsistik, melainkan kemampuan untuk mengenal, memahami, menerima, dan menghargai diri sebagai ciptaan Allah yang unik dan berharga. Mencintai diri berarti memiliki self-compassion — ber-welas asih kepada diri sendiri sebagaimana kita ber-welas asih kepada orang lain.
Mindset dalam KBC mengajak kita Shifting dari self-pity dan narsisme menuju self-compassion, yakni menyadari kekurangan tanpa membenci diri, belajar dari kesalahan tanpa menghukum diri. Jika kita tidak berdamai dengan luka, kekurangan, dan emosi kita, maka akan sulit bagi kita untuk benar-benar mencintai orang lain.
Sementara itu, cinta kepada sesama manusia berarti menumbuhkan empati yang sejati, bukan sekadar toleransi. Kita diajak untuk berpindah dari judging ke observing, dari reaktif menuju proaktif, dari kebiasaan menghakimi menjadi kebiasaan memahami.
Dalam konteks pendidikan, seorang pendidik yang mencintai dirinya akan mampu hadir secara utuh di depan peserta didiknya — bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai penumbuh kebahagiaan belajar. Ia menjaga keseimbangan batin dan fisik, sehingga bisa menghadirkan empati dan kehangatan.
Sementara pendidik yang menumbuhkan cinta kepada sesama akan memandang peserta didik bukan sebagai objek evaluasi, melainkan sebagai manusia yang sedang tumbuh. Mereka memupuk other compassion, belas kasih kepada orang lain, sebagai pasangan dari self-compassion. Kedua sayap inilah cinta diri dan cinta sesama yang membuat manusia mampu terbang dalam keseimbangan cinta sejati.
Pendidik yang memahami konsep ini akan lebih mudah memaafkan dirinya saat gagal dan memaafkan peserta didiknya saat mereka berbuat salah. Dari sanalah lahir suasana belajar yang hangat, manusiawi, dan penuh cinta. Karena itu, KBC mengajak setiap pendidik, ASN, dan orang tua untuk berperilaku dari hati yang penuh kasih, bukan dari reaksi amarah atau kelelahan. Sebab, orang yang damai dengan dirinya akan lebih mudah menebarkan kedamaian bagi orang lain.
Editor :Ika Berdiati