Artikel
Mbah Sobri

Mbah Sobri

Mbah Sobri begitu dia dipanggil. Lengkapnya Muhammad Sobri Saubilhak . Islamis kan?  Sekarang ini dia sering dipanggil mbah Sobri. Umurnya sekitar 76 tahun. Kopiah yang kadang sudah lusuh hampir tak pernah lalai dipakai, seperti sudah menjadi trade marknya. Berperawakan kecil,  tidak gagah tapi sehatnya luar biasa. Bayangkan kakek seusia itu masih mampu naik pohon duren  untuk mengikat buah-buah duren yang setengah matang agar ketika buah duren matang pohon  tidak jatuh ke tanah. Naik pohon rambutan sampai ke ujung. Wow,  terkadang kita yang melihat terngeri-ngeri.  Buah yang dia ambil tak pernah dijualnya. Mbah Sobri selalu mengajak orang-orang di sekelilingnya untuk menikmati buah-buah itu.

Kemarin pagi kulihat dia main pingpong di halaman rumah tetangganya  tanpa kaos alias telanjang dada  dengan memakai  sarung belel dan ikat kepala batik yang sama  belelnya dengan sarung. Ternyata dia sudah main 4 set, ketika kutanya sudah berapa set mbah itu main pada tetangganya itu. Hebat juga dia!  Setua itu gitu loh… Di mana kakek-kakek lainnya  terkadang sudah tergolek sakit, tak berdaya. Mabh Sobri masih enerjik.  Kalah deh aku.

Upps!… Satu lagi kehebatan Mbah Sobri dari segudang kehebatannya. Mbah Sobri   sering pergi belanja ke pasar untuk membeli sesuatu yang dapat dimasak. Kemudian dia olah menjadi suatu masakan rumahan sederhana tapi wuuuennaknya luar biasa. Pernah kucoba martabak buatannya, yang diramu dengan kreatif dengan isi daging ayam, wortel, dan sosis, ditambah bumbu cuka. Duh nikmatnya tak ada tandingnya.

Mbah  Sobri punya empat anak yang semuanya taat sebagai muslim. Sering mengingatkan anak dan cucu-cucunya untuk sholat. Sering menyarankan agar anaknya menyekolahkan anak-anak mereka ke pesantren agar keturunannya mampu menjalankan perintah agamanya. Sering mengajak anak dan cucunya untuk datang tahlilan ke tetangga yang kebetulan kehilangan salah satu keluarganya. Semua orang kampung tak ada yang tak kenal dengan Mbah Sobri,  karena dia termasuk orang yang ramah pada setiap orang. Hebat mbah Sobri.  Eh ya anaknya yang nomor dua jadi ustazt loh…

Mbah Sobri juga kerap  mengaplikasikan pemahaman habluminannasnya. Bagaimana ia harus  menyedekahkan sebagian yang dia punya. Mbah Sobri adalah orang yang paling depan menolong masyarakat sekelilingnya apabila ada yang mendapat  kesulitan. Memberi pinjaman mobil, bila ada yang sakit dan perlu dibawa ke rumah sakit.  Peduli dengan keadaan sekelilingnya. Bayangkan Mbah Sobri sering membeli semen dengan uang sendiri untuk menambal jalan kampung di depan rumahnya yang banyak bolong dengan tangannya sendiri. Takut ada yang celaka atau terperosok katanya.

Mbah Sobri sering ngedumel kalau ada cucunya yang bangun kesiangan dan otomatis sholat Subuhnya pun kesiangan.

“Ayo bangun. Sholat Subuh dulu. Lihat nih Mbah, Jam empat sudah bangun. Kamu masih muda aja udah males”, ujarnya. “Bangun jangan sampai keduluan matahari donk”,  tambahnya lagi kadang sambil keloyor pergi.

Tinggal cucunya yang tepat tinggal di sebelah rumahnya ngedumel, “Uh Mbah bangun pagi tapi gak pernah sholat Subuh. Percuma aja… Mending akulah bangun jam enam juga masih sholat”. Tentu saja dumelan cucunya itu tak terdengar Si Mbah. Wah,  kalau tidak, bisa marah besar Si Mbah. Karena tidak ada satu orang pun yang berani menyinggung tentang kenapa Mbah Sobri tidak pernah sholat lima waktu.

Terkadang anak-anak Mbah Sobri sering curhat, merasa kasihan pada ayahnya yang sepanjang hidupnya tidak pernah menjalankan sholat. Jangankan yang lima waktu, Idul fitri dan Idul Adha yang setahun aja tidak pernah ia jalani.  Bila diingatkan oleh anaknya, maka semprotan marah-marah lah yang mereka terima.

“Ah, sok tahu kalian, baru jadi orang aja sudah nasihati orang tua.  Saya ini biar tidak sholat juga bisa kok nolong orang.. Tuh Pak Haji Darmin sholatnya rajin, ke mesjid rajin tapi dimita nolong orang aja susahnya setengah mati. Mana arti sholatnya’’, begitu kata Mbah Sobri.

“Tuh ustadz yang suka ceramah di mesjid, yang suaranya terdengar di corong mesjid dengan gagah,  yang suka ngajari sholat, tapi suka menzholimi istri-istrinya dengan ketidakadilannya memberi nafkah”.

“Coba kamu perhatikan orang-orang yang katanya jago tentang agama, tapi kok suka juga ngomongin kejelekan  orang kesana-kemari.  Katanya ngomongin sesama muslim ibarat makan daging bangkai saudaranya sendiri”, tambah Mbah Sobri dengan lantang seolah menantang orang yang menasihatinya.

“Saya ini juga percaya kok sama Allah. Buktinya apa yang saya lakukan adalah ibadah saya kepada  Allah kok. Bukan karena dingin dipandang orang. Jadi jangan sok tahu deh”. Lantas mulainya Mbah Sobri menyebut nama-nama orang yang dia pikir dapat dibanding-banding dengannya.

Sebagai anak tentu saja berani lagi memperpanjang bahasan. Karena jadinya bakal panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas  nantinya. Apalagi kalau sudah dikatakan anak yang melawang orang tua. Anak yang suka membangkang. Bahkan pernah juga dikatakan anak yang kurang ajar. Wuh… berabe! Dan akhirnya dibiarkan saja Mbah Sobri mau berkata dan mengomel apapun.

“Terkadang kami putus asa menasihati Ayah. Kasihan sudah setua itu belum mendapatkan hidayah untuk sholat, kami sudah berusaha dengan berbagai cara”, begitu keluh kesah anaknya yang merasa prihatin dengan kelakuan ayahnya.

“Kami cuma takut, bagaimana kalau  ayah  dipanggil oleh Allah dalam keadaan yang seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi.” 

Waktu itu pernah  ada sekumpulan orang bersorban, yang berdakwah berkeliling dari mesjid ke mesjid dan  mungkin berkomitmen mengajak orang untuk berbuat kebajikan dengan mengajak sholat di mesjid. Mulia juga ajakannya. Tapi ditolak mentah-mentah oleh Mbah Sobri. Sambil berdiri bertolak pinggang dan  mengarahkan telunjuknya ke pintu keluar sambil berkata, “Saya tidak butuh nasihat kalian.  Pikirkan saja keluarga kalian yang kalian tinggalkan tanpa kalian pikirkan nafkahnya. Kalian pergi berdakwah keliling tapi keluarga kalian ditelantarkan. Apa itu bagian dari ibadah kalian”’ begitu omelan Mbah Sobri.

Dan sepanjang 70-an tahun hidupnya tentu saja tidak jarang Mbah Sobri mendapat motivasi-motivasi, nasihat-nasihat , bahkan sindiran-sindiran yang mengajak dirinya mendekati agamanya, terutama mengajaknya untuk sholat. Tapi ternyata Mbah Sobri belum dilimpahkan hidayah dan rahmat oleh Allah. Padahal Mbah Sobri sudah di waktu senja kehidupannya.

“Dalam tahajud kami, dalam doa kami, selalu tak hentinya kami mintakan agar ayah dibukakan pintu hati dan pikirannya agar raganya mau bertawadhu dan bersujud melalui sholat-sholatnya”, begitu curhat anak cucu Mbah Sobri

“Terkadang kami malu pada Allah dan tentu saja kepada masyarakat kampung kami, mengapa tak pernah mampu mengajak ayah kami untuk menjalankan sholat.” Jelas anaknya yang ustazt.

Anak-anak Mbah Sobri sudah nampak pasrah dengan apa yang teralama i pada Mbah Sobri. Siapa yah yang mampu menolong Mbah Sobri. Ah Mbah Sobri kasihannya dikau.